Memahami Ilmu Tahsin Al Quran

Tahsin Al Quran

Tahsin Al Quran merupakan ilmu yang berkaitan dengan perihal pemberian hak dan mustahak setiap huruf, baik dari asepek makhraj maupun sifatnya (Al-Mustanbathul-jadid fi ilmi tajwid). Sedangkan menurut Bahasa arti kata Tahsin adalah membaguskan.

Tahsin Al Quran

Membaca Al Quran merupakan kewajiban mendasar dan mempunyai nilai ibadah utama, terlebih lagi jika membacanya sesuai dengan yang dicontohkan para ahli Al Quran. Dengan mengikuti kaidah-kaidah yang tepat dan sesuai dengan ilmu tahsin atau tajwid, maka keaslian dan keotentikan Al Quran dari segi bacaannya dapat tetap terjaga sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW, praktik sahabat dan para pengikut sunnahnya yang setia.

Tujuan utama belajar tahsin tilawah adalah untuk menjaga lisan dari kesalahan-kesalahan ketika membaca Al Quran dalam rangka memenuhi perintah Allah SWT yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW melalui sunnah-sunnahnya. Belajar membaca Al Quran tidak bisa dilakukan secara otodidak, melainkan harus melalui pendampingan oleh seorang guru atau ustadz yang berkompeten.

LKP Tar-Q sebagai sebuah lembaga yang bergerak dibidang pembinaan Al Quran dan studi Islam dengan program utama meliputi : Mahir Membaca Al Quran, Mahir Menghafal Al Quran dan Mahir Memahami Al Quran. Program ini diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan kemampuan membaca Al Quran sesuai dengan standar bacaan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Landasan dan Hukum Mempelajari Tahsin Al Quran :

                “Dan bacalah Al Quran dengan tartil” QS : Al Muzzammil 73 : Ayat 4

Allah SWT memperintahkan kita untuk mampu membaca Al Quran secara tartil. Membaca Al Quran secara Tartil adalah membaca dengan tingkatan bacaan sedang dan tidak tergesa-gesa. Menekankan pada ketenangan dalam membaca, pemahaman dan perenungan pada setiap kalimat yang dibaca dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah membaca Al Quran yang kesempurnaan pemahaman tidak tercapai kecuali dengan menerapkan kaidah tersebut yaitu kaidah ilmu tahsin atau tajwid.

Adapun Pandangan Ulama secara umum terbagi menjadi 2 hukum dalam mempelajari Tahsin Al Quran

  1. Wajib Syar’i : apabila dikerjakan mendapat pahala dan berdosa jika meninggalkannya, seperti wajibnya memelihara ketepatan huruf dari perubahan apalagi jika sampai merubah makna.
  2. Wajib Shina’i : apabila dikerjakan dianggap telah berbuat kebaikan namun sebaliknya apabila meninggalkannya telah berbuat keburukan, seperti pentingnya memelihara kaidah-kaidah tajwid lainnya.

Mari bergabung bersama LKP Tar-Q sebagai Lembaga Kursus dan Pelatihan dalam pembinaan mahir membaca Al Quran di kota Bandung untuk mendapatkan kemampuan membaca Al Quran sesuai standart yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Tiga Istilah Penting Dalam Ilmu Tajwid

Salah satu ilmu terpenting yang harus dipelajari oleh seorang muslim adalah Ilmu Tajwid. Tanpa belajar dan memahami ilmu ini maka seorang muslim pasti akan mengalami kesulitan dalam membaca Al Quran sebagai petunjuk dalam kehidupan. LKP Tar-Q sebagai Pusat Pembinaan Al Quran dan Studi Islam menjadi sebuah lembaga yang secara intensif memberikan bimbingan dalam belajar Ilmu Tajwid untuk didapatkan bacaan Al Quran yang baik dan benar sesuai contoh dari Rasulullah.

3 Istilah Penting Tajwid

Ketika kita belajar Ilmu Tajwid, maka terdapat 3 istilah penting yang harus kita pahami. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Qira’ah

Istilah Qiraah digunakan untuk menerangkan suatu jenis bacaan yang dinisbatkan kepada salah satu Imam Qiraah yang tujuh atau yang sepuluh.

Imam Sepuluh Imam Tujuh
1.       Nafi

2.       Ibnu Katsir

3.       Abu Amr al-Bashri

4.       Ibnu Amir

5.       Ashim

6.       Hamzah

7.       al Kisa’i

8.       Abu Ja’far al-Madani

9.       Ya’qub al-Hadhrami

10.   Khalaf al-Baghdadi

1.       Nafi

2.       Ibnu Katsir

3.       Abu Amr al-Bashri

4.       Ibnu Amir

5.       Ashim

6.       Hamzah

7.       al-Kisa’i

Jika kita mendengar istilah Qiraah Ashim, Qiraah Nafi atau sejenisnya maka yang dimaksud adalah penisbatan qiraah tersebut kepada para imam diatas. Bagian terpentingnya adalah bahwa bukan mereka para imam yang membuat atau mengarang qiraah. Meraka para imam hanya menyampaikan apa yang diambil dari generasi sebelumnya sampai bersambung kepada Rasulullah. Hal ini berkaitan langsung tentang tata cara melafazhkan bacaan Al Quran (kaifiyat) sesuai apa yang di-talaqqi-kan dengan musyafahah (langsung dari lisan ke lisan) dengan jalur sanad bersambung hingga kepada Rasulullah.

2. Riwayah

Menerangkan perihal penisbatan ulama yang meriwayatkan qiraah yang diambil dari salah satu imam yang tujuh atau imam yang sepuluh. Periwayatan berdasarkan tata cara (kaifiyat) qiraah mereka dalam melafazhkan bacaan Al Quran. Setiap Imam Qiraah memiliki 2 perawi, diantaranya sebagai berikut :

1. Nafi
A. Qaaluun
B. Warasy

2. Ibnu Katsir
A. Al-Bazzi
B. Qunbul

3. Abu Amr al-Bashri
A. Ad-Duuriyy
B. As-Suusiyy

4. Ibnu Amir
A. Hisyam
B. Ibnu Dzakwan

5. Ashim
A. Syu’bah
B. Hafsh

6. Hamzah
A. Khalaf
B. Khallad

7. al Kisa’i
A. Al-Laits
B. Hafsh ad-Duuri

8. Abu Ja’far al-Madani
A. ‘Isa bin Wardan
B. Ibnu Jammaaz

9. Ya’qub al-Hadhrami
A. Ruwais
B. Rauh

10. Khalaf al-Baghdadi
A. Ishaq
B. Idris

3. Thariqah

Merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan proses penisbatan kepada yang menukil dari perawi.

Contoh : Riwayat Hafsh Qiraat Imam Ashim dari Jalur Asy Syathibiyyah

Ketarangan :

  • Hafsh adalah perawi yang meriwayatkan
  • Dari bacaan Imam Ashim
  • Melalui Thariqah Asy Syathibiyyah

Kemudahan Belajar Membaca Al Quran

Mudah Belajar Al Quran

Hadits tentang keutamaan dan kemudahan belajar membaca Al Quran :

Dari ‘Aisyah ra., Rasulullah saw.bersabda :”orang yang ahli dalam Al-Qur’an akan bersama dengan para malaikat pencatat mulia lagi benar. Dan orang yang terbata-bata membaca Al-Qur’an dan dia bersusah payah (untuk mempelajarinya), maka baginya pahala dua kali.”(HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah)

Riwayat Hadits diatas mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita semua, dimana orang yang terbata-bata dalam mebaca Al Quran dan dia berusah payah untuk mempelajarinya maka didapatkan pahala 2x. Didapatkannya pahala 2x disini bukan berarti orang yang terbata-bata dalam membaca Al Quran memiliki pahala yang lebih besar dibanding kan dengan orang yang telah ahli dalam membaca Al Quran. Pahala 2x disini dimaksudkan adalah pahala dalam membacanya dan pahal untuk perjuangan dalam mempelajarinya.

Mudah Belajar Al Quran

Keutamaan hadits ini hendaknya dapat memotivasi kita untuk belajar membaca Al Quran. Karena tidak sedikit umat muslim yang belum bisa membaca Al Quran dengan baik dan benar sesuai yang telah dicontohkan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Banyak dari kita yang merasa cukup dengan kemampuan membaca Al Quran yang sudah dimiliki, dan apakah kita pernah memeriksakan bacaan Al Quran kita kepada ustadz atau syeikh yang sudah ahli dalam membaca Al Quran ?

Belajar membaca Al Quran merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim, tanpa mengenal batasan umur. Bagi kita yang mungkin sudah berumur 30 tahun ke-atas tetapi belum memiliki kemampuan baca Al Quran yang baik, maka kita pun harus berusaha untuk belajar dengan lebih giat guna mendapatkan bacaan Al Quran yang sempurna. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqaroh, bahwasannya Al Quran adalah sebuah petunjuk bagi seluruh manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini untuk dapat sampai pada tujuan ke akhirat dengan selamat. Lalu bagaimana kita bisa mengambil petunjuk dalam Al Quran, jika membaca nya saja kita tidak bisa.

Belajar membaca Al Quran bukanlah sesuatu yang sulit, Karena Allah SWT telah menjamin kemudahan belajar Al Quran sesuai firman Nya :

Dalil Kemudahan Belajar Membaca Al Quran

QS Taha : Ayat 2

Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah “


QS Al Qamar : 17

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran[30], maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? ”

Adapun adab utama dalam menuntut ilmu untuk belajar Al Quran adalah harus dengan menghadap Guru atau Ustadz yang ahli dalam membaca Al Quran. Belajar Al Quran tidak bisa secara otodidak sebagaimana ilmu-ilmu terapan lain yang mungkin bisa kita pelajari sendiri tanpa pendampingan seorang guru. Kenapa harus dengan guru ? Karena membaca Al Quran harus sesuai dengan apa yang sudah dicontohkan Rasulullah, agar kita bisa tau salah atau benar nya bacaan kita maka diperlukan seorang guru.

Bagi Anda yang ingin mulai untuk belajar mebaca Al Quran dan memerlukan pendampingan seorang guru atau Ustadz, LKP TarQ hadir untuk memberikan solusi dan jawaban atas kebutuhan Anda. TarQ merupakan sebuah Lembaga Kursus Membaca Al Quran dengan sebuah metode pembelajaran khusus yang dapat diterapkan untuk semua kalangan umur. Klik Disini untuk informasi lebih lanjut tentang Kursus Belajar Membaca Al Quran Bersama LKP TarQ.

Nikmat Al Quran dan Jalan Kemudahan

Ada dua nikmat besar yang diterima oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Pertama, yaitu nikmat alquran.

سَنُقْرِؤُكَ فَلَا تَنسَى (الأعلى: 6)

“Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa”.(Al A’la: 6)

Dan dalam ayat lainnya Allah Ta’ala menyebutkan,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحاً مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُوراً نَّهْدِي بِهِ مَنْ نَّشَاء مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ (الشورى: 52)

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Asy Syura: 52)

Nikmat yang kedua yaitu diberikan taufiq ke jalan yang mudah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرَى

“Dan kami akan memberi kamu taufik ke jalan yang mudah[1571]”(Al A’la: 8)

[1571] Maksudnya: jalan yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Mudah bukan berarti sesuatu yang dilakukan ringan atau mudah. Justru amalan yang dilakukan berat dan tidak mudah dilakukan. Kita lihat bagaimana qiyamul lail Rasulullah, apa yang dibaca beliau dalam rakaat pertama, kedua dan ketiga. Rakaat pertama membaca surah albaqarah, kedua An Nisa’ dan rakaat ketiga Ali Imran. Begitu panjang surah-surah tersebut, namun Rasulullah dimudahkan untuk melaksanakannya.

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ فَمَضَى فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَتَيْنِ فَمَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ فَمَضَى فَافْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ ثُمَّ رَكَعَ فَقَالَ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَكَانَ قِيَامُهُ قَرِيبًا مِنْ رُكُوعِهِ ثُمَّ سَجَدَ فَجَعَلَ يَقُولُ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ رُكُوعِهِ

Dari Hudzaifah Radhiallahu Anhu berkata: “Aku pernah shalat dengan Rasulullah pada suatu malam, beliau memulainya dengan membaca surah Al Baqarah. Lalu aku berkata dalam hatiku; -Mungkin- beliau akan ruku’ pada ayat ke seratus. Namun beliau malah meneruskannya’. Aku berkata dalam hatiku, ‘-Mungkin- beliau akan ruku’ saat dua ratus ayat, namun beliau malah meneruskannya’. Aku berkata dalam hatiku, ‘Beliau shalat dgn surat Al Baqarah dalam satu rakaat. Kemudian beliau meneruskan (shalatnya), & memulainya dengan membaca surah An Nisaa’. Beliau membacanya (hingga selesai), kemudian memulai lagi dengan surah Ali ‘Imraan, dan beliau membacanya (hingga selesai) dengan perlahan-perlahan. Jika beliau menjumpai ayat tasbih maka beliau bertasbih (memuji Allah), jika beliau menjumpai ayat yang menganjurkan untuk meminta maka beliau pun meminta (kepada Allah), & jika beliau menjumpai ayat yang berkenaan dengan memohon perlindungan maka beliau memohon perlindungan. Kemudian beliau ruku’ dengan membaca subhana rabbiyal ‘azhimi (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung), yang (karenanya) ruku’ beliau sama dengan (lamanya) berdiri. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu mengucapkan Sami’allahu liman Hamidah (Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya). Dan (lamanya) berdiri beliau sama dengan (lamanya) beliau ruku’. Kemudian beliau sujud dengan membaca subhana rabbiyal a’laa (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Sujud beliau sama dengan (lamanya) ruku’ beliau”. [HR. An Nasa’i]

Ayat 8 dari surah Al A’la di atas senada dengan surah Al Insyirah ayat 1, “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”,

Abu Hayyan dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “syarh Shadr” di sini adalah Allah Ta’ala menerangi dadanya dengan ilmu dan hikmah, dan menjadikannya dadanya lapang, agar Rasulullah mampu menerima wahyu ilahi, dan ini merupakan pendapat jumhur ulama’. Kemudian ada lagi yang menafsirkan “syarh Shadrihi” dengan; “ketika Rasulullah masih kecil sedang menggembala kambing, Jibril ‘alaihissalam datang membelah dadanya, mengambil hati atau jantungnya lalu dibersihkan dengan air zam-zam, dikembalikan dan diisi kembali dengan iman, ilmu dan hikmah.”

Karena Rasulullah adalah Nabi yang terpilih, maka Allah Ta’ala tidak mau ketika Rasulullah menyampaikan tugas dan kewajibannya ada kemurungan tidak berhasil. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa perjuangan Rasulullah sungguh sangat dahsyat, diperlakukan sedemikian rupa oleh orang-orang yang tidak senang, baik berupa sikap, ucapan maupun perbuatan, semuanya membuat Nabi tidak senang. Dan ini merupakan gangguan, tantangan, rintangan dan kesulitan. Sebab itu, Allah Ta’ala telah memberikan hidayah, memantapkan iman dan telah memancarkan cahaya alquran kepada diri Nabi Muhammad, maka dada Nabi menjadi lapang dan beliau memilikii jiwa yang besar sehingga beliau mampu menjalani tugas dan kewajibannya sampai akhirnya menggapai kemenangan yang gilang gemilang.

Setiap orang apalagi pemimpin yang diberikan Allah Ta’ala dada yang lapang, pandangan yang luas, jiwa yang besar maka ia akan mendapatkan keteguhan hati untuk melanjutkan perjuangannya, meneruskan pekerjaannya, walaupun banyak tantangan dan rintangan karena Allah telah mengaruniakan dada yang lapang dan jiwa yang besar, maka insya Allah dia akan berhasil sampai mencapai kesuksesan, kemenangan seperti yang dicontohkan dalam kehidupan pribadi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

source : https://artikel.masjidku.id/articles-item.php?id=2842